‘Kampoeng Tjina’ & Festival Peunayong

1. Dirangkai dengan Festival Krueng Aceh

BANDA ACEH – Kota Tua Banda Aceh yang memiliki keberagaman sejarah dan budaya akan ditampilkan dalam satu kegiatan bertajuk Festival Peunayong pada 6-8 Mei 2011. Festival tersebut akan diikuti aneka etnik Kampoeng Tjina (julukan Peunayong tempo doeloe) melalui atraksi pawai malam hari dengan bernuansa oriental dihiasi cahaya lampion.
Festival Peunayong merupakan salah satu kegiatan mengisi agenda Visit Banda Aceh 2011 dan sekaligus menyemarakkan HUT ke-806 ‘Kota Tua’. “Ini bagian dari pelestarian budaya dan adat istiadat yang begitu beragam di Aceh. Peunayong menjadi salah satu bukti sejarah tentang keberagaman itu,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dibudpar) Kota Banda Aceh, Reza Fahlevi.

Menurut Reza, Festival Peunayong akan diawali atraksi pawai budaya yang diikuti aneka etnis pada Jumat (6/5) malam mengitari sejumlah ruas jalan “Kampoeng Tjina”. Masyarakat dari gampong-gampong se-Kecamatan Kuta Alam juga akan meramaikan kegiatan yang bertabur kekayaan budaya dan tradisi tersebut. Pusat kegiatan Festival Peunayong–termasuk prosesi pembukaan–mengambil lokasi di Jalan A Yani. “Festival Peunayong juga menampilkan pameran, pentas seni tradisional, dan pusat jajanan makanan dan minuman khas masyarakat di Peunayong yang berlatar belakang multietnis. “Insya Allah semua rencana bisa kita laksanakan dengan lancar,” ujar Reza Fahlevi.

Dikatakannya, selama berlangsungnya Festival Peunayong, ruas Jalan A Yani akan ditutup dan arus kendaraan dari Jalan Sri Ratu Safiatuddin maupun Jalan Panglima Polem akan dialihkan ke Jalan Kartini dan Jalan Cut Nyak Dhien. “Kita sudah koordinasikan juga masalah ini dengan berbagai pihak terkait termasuk dengan kepolisian,” katanya.

Festival Krueng Aceh
Bersamaan dengan Festival Peunayong, juga dilaksanakan Festival Krueng Aceh, yaitu 7-8 Mei 2011. Festival Krueng Aceh akan disemarakkan dengan lomba perahu hias, lomba menangkap bebek, lomba perahu naga, dan pentas seni.

“Kedua festival ini digelar sebagai upaya meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke Kota Banda Aceh sekaligus sebagai hiburan bagi warga kota. Dukungan dari semua pihak sangat diharapkan,” demikian Reza Fahlevi.(c47)

sumber : http://aceh.tribunnews.com

2. Jalan A Yani Ditutup Tiga Hari

BANDA ACEH – Selama pelaksanaan Festival Peunayong, Jumat-Minggu (6-8/5), arus lalulintas di Jalan Ahmad Yani sebagai tempat berlangsungnya kegiatan, ditutup sementara. Sebagai alternatif, jalan yang selama ini ditetapkan sebagai jalur satu arah itu, dialihkan ke jalan lain dengan membuka akses transportasi dua arah, seperti ke Jalan Chairil Anwar.

Bagi warga yang melintasi Jalan Sri Ratu Safiatuddin hendak menuju kawasan Keudah dan Pelanggahan, bisa melalui Jalan Chairil Anwar, lalu ke Jalan T Panglima Polem, Jalan WR Supratman (dibuka akses dua arah), dan berputar di belakang panggung utama pelaksanaan festival itu. Sementara Jalan Twk Daudsyah tidak ada perubahan, dan tetap diberlakukan satu arah.

Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Banda Aceh, Reza Fahlevi, kepada Serambi, Kamis (5/5) mengatakan, pengalihan jalan ini dilakukan demi menyukseskan acara Festival Peunayong. Informasi yang diterima Reza dari Kadis Perhubungan Banda Aceh, Muzakkir Tulot, penutupan jalan ini hanya sementara, selama tiga hari. Usai festival, rute lalulintas akan berlaku seperti semula.(mir)

sumber : http://aceh.tribunnews.com

3. Festival Peunayong

KOTA Banda Aceh sedang mengadakan kegiatan yang berbarengan dengan acara “Festival Krueng Aceh” yaitu “Festival Peunayong”. Mengambil tempat di daerah Peunayong, Pemerintah seakan mengajak kita bersama untuk tidak hanya sekedar meramaikan sebuah festival, atau sekedar mengikuti aneka perlombaan yang diadakan pada perayaan tersebut, seperti lomba perahu naga, lomba perahu hias, lomba perahu dayung, dan lomba tangkap bebek.

Lebih dari itu, festival yang diadakan selama 06-08 Mei 2011 ini bermaksud menyampaikan sebuah pesan kepada kita semua. Mengambil momen yang tepat untuk sekalian menyambut hari ulang tahun Kota Banda Aceh yang ke 806, pesan tersebut seperti yang dikatakan oleh Ketua Panitia Festival Peunayong M. Diwarsyah “untuk kembali mengangkat keragaman budaya masyarakat yang tinggal di kawasan Peunayong, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh” (www.kompas.com, 4/5/2011). Tentu harapan tersebut sangat baik untuk semakin mengokohkan rasa persatuan dan kesatuan di dalam keberagaman. Dalam konteks ini adalah hubungan etnis Tionghoa dan masyarakat Aceh itu sendiri, serta hubungan dengan etnis-etnis lain yang berdomisili di Banda Aceh.

Festival tersebut dapat dijadikan salah satu momen yang baik untuk membangun kehidupan masyarakat yang multikultural (Multikulturalisme). Multikulturalisme lebih menekankan relasi antar-kebudayaan dengan pengertian bahwa keberadaan suatu kebudayaan harus mempertimbangkan keberadaan kebudayaan lainnya. Dari sini lahir gagasan kesetaraan, toleransi, saling menghargai, dan sebagainya (Saifuddin, 2006: 05), yang mengajarkan kita untuk hidup saling bertenggang rasa, saling menghargai perbedaan antara etnis satu dengan etnis yang lain. Menyadari dan mengakui perbedaan etnis namun juga menghargai perbedaan tersebut dalam berkehidupan.

Kali ini Pemerintah Kota Banda Aceh mengajak kita untuk melakukannya di kawasan Peunayong, sebuah kawasan di Banda Aceh yang mayoritas ditempati oleh etnis Tionghoa, jika tidak terlalu jauh mungkin dapat saya katakan miriplah dengan China Town-nya Amerika.

Kawasan Peunayong sejak abad ke 17 sudah menjadi titik tempat berkumpulnya para pedagang dari etnis Tionghoa di Banda Aceh. Krueng Aceh yang melewatinya juga telah mengambil peran yang amat penting untuk hal ini. Pada masa Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M) sungai ini telah menjadi jalur transportasi bagi kapal-kapal pedagang asing (Arab, Persia, Pegu, Gujarat, Jawa, Turki, Bengali, Tionghoa, Siam, Eropa dan lain-lain). Hubungan perdagangan yang erat telah membuat etnis Tionghoa pada waktu itu menetap di kawasan Peunayong (Bandar Peunayong).

Jika menilik kembali dalam sejarah, kerja sama antara etnis Tionghoa dan masyarakat Aceh sudah lama sekali berlangsung, hubungan yang harmonis tersebut dibangun dari abad ke abad. Saya berpikir bagaimana mungkin etnis yang dahulunya pendatang dapat menetap begitu lama hingga menjadi bagian dari rakyat Aceh jika bukan karena adanya hubungan saling menghormati dan menghargai perbedaan antara kedua etnis tersebut.

Aceh sebagai etnis mayoritas dan Tionghoa sebagai minoritas dari sisi jumlah. Di dalam sejarah bangsa kita pula sudah banyak hubungan-hubungan antara dua kekuatan etnis yang tidak balance tersebut menghasilkan konflik internal. Kita dapat mengambil pelajaran dari kasus Ambon dan Maluku dalam hal ini. Di Aceh pun konflik dengan motif berbeda pernah terjadi di tahun 1998-1999 akibat gejolak politik yang memanas di negeri ini.

Syukurlah keadaan sekarang semakin membaik dan sudah sebaiknya kenangan buruk masa lalu menjadi pembelajaran bagi kita semua. Dalam konteks ini pelajaran untuk hidup saling mengharagai di tengah-tengah perbedaan yang ada.

Dalam konteks multikulturalisme, sangat baik jika semua masyarakat menyambutnya di Festival Peunayong yang sedang berlangsung ini. Semoga acara tersebut berjalan lancar dan tidak ditunggangi oleh aksi-aksi yang dapat memecah belah kita bersama, lebih-lebih lagi terhadap isu terorisme yang sedang hangat diberitakan oleh berbagai media. Semangat untuk saling menjaga kesatuan di tengah perbedaan adalah senjata ampuh untuk melawan berbagai niatan buruk itu semua.

Kiranya melalui Festival tersebut Pemerintah telah melakukan apa yang disebut oleh Saifuddin (2006: 06) sebagai kebijakan multikultural yaitu politik pengelolaan perbedaan kebudayaan warga negara dengan mengutamakan kesetaraan dan saling menghargai.Tentu bukan hanya jajaran pemerintah dan aparat keamanan saja yang bertugas melindungi kondisi ini semua. Adalah tugas dan kewajiban kita sebagai kesatuan masyarakat Aceh untuk menjaganya bersama. Menjadikan niatan itu sebagai kesadaran kolektif kita bersama dalam menyikapi perbedaan yang ada.

Merajut kebersamaan di dalam perbedaan menjadi penting saat ini. Ini menjadi nilai yang harus berjalan beriring dengan pembangunan dalam bentuk fisik. Tentu dengan membangun kebersamaan akan mencegah dari timbulnya konlfik-konflik baik internal maupun eksternal.

Festival Peunayong kiranya menjadi sarana pembelajaran yang baik bagi masyarakat dalam menghadapi tantangan terhadapa ide Multikulturalisme dari “pluralisme sempit” masyarakat itu sendiri (Abdullah, 2006: 32- 37). Seiring dalam menyambut ulang tahun Kota Banda Aceh yang ke 806 ini, semoga bukan lomba perahu naga, lomba perahu hias, lomba perahu dayung dan lomba tangkap bebek saja yang menjadi tujuan. Semoga nilai-nilai yang dibawanyalah yang menjadi alasan untuk terus mendukung dan membangun kebersamaan di dalam perbedaan.

* Penulis adalah Antropolog, berdomisili di Banda Aceh.

sumber : http://aceh.tribunnews.com

4. Atraksi Barongsai Meriahkan Pembukaan Festival Peunayong

BANDA ACEH – Pembukaan Festival Peunayong, sekaligus Festival Krueng Aceh oleh Wali Kota Banda Aceh, Ir Mawardy Nurdin di Jalan Ahmad Yani malam tadi, dimeriahkan atraksi Barongsai.

Tak hanya ribuan pengunjung, umumnya warga Aceh dan etnis Tionghoa di Banda Aceh, para pejabat muspida Aceh, termasuk Gubernur Irwandi Yusuf dan muspida Banda Aceh tampak sangat menikmati tarian khas Cina yang dipersembahkan kelompok dari Medan itu. Usai atraksi Barongsai, dilanjutkan atraksi karate oleh anak-anak dan remaja etnis Tionghoa.

Sebelumnya, Wali Kota Banda Aceh, Mawardy Nurdin dalam sambutannya menyambut baik festival yang umumnya menampilkan kebudayaan Cina. Festival itu juga menandakan hubungan Aceh dan Cina sudah berlangsung sejak ratusan tahun silam. “Sedangkan Peunayong adalah pusatnya,” kata Wali Kota.

Menurutnya, Festival Peunayong dan Festival Krueng Aceh juga dalam rangka Banda Aceh Visit Years. Mawardy berharap festival serupa nantinya menjadi agenda tahunan. Festival Peunayong berlangsung dari 6-8 Mei 2010. Amatan Serambi, malam tadi ribuan warga sudah memadati lokasi itu, serta memenuhi berbagai stand yang dipersiapkan. (sal)

sumber : http://aceh.tribunnews.com/

5. Festival Peunayong Jadi Even Tahunan

BANDA ACEH – Festival Peunayong yang menampilkan keberagaman sejarah dan budaya direncanakan oleh Pemko Banda Aceh menjadi even  tahunan dengan melibatkan multietnik di kawasan kota tua yang juga disebut Kampoeng Tjina tersebut. “Insya Allah, berbagai kekurangan akan terus kita benahi dan kita harapkan Festival Peunayong menjadi even tahunan,” kata Wakil Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal.

Illiza menyatakan itu ketika menutup Festival Peunayong, tadi malam. Festival Peunayong merupakan salah satu kegiatan mengisi agenda Visit Banda Aceh 2011 dan sekaligus menyemarakkan HUT ke-806 Kota Banda Aceh berlangsung sejak Jumat (6/5) malam. “Festival Peunayong juga menjadi salah satu bentuk tanggung jawab kita untuk pelestarian budaya dan adat istiadat yang begitu beragam di Aceh, termasuk di Banda Aceh,” kata Illiza.

Wakil Wali Kota Banda Aceh menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu suksesnya kegiatan Festival Peunayong yang juga dirangkai dengan Festival Krueng Aceh. Suksesnya kegiatan tersebut juga tak terlepas dari kerja keras Unsur Muspika Kuta Alam bersama masyarakat dari gampong-gampong di wilayah tersebut, termasuk masyarakat yang bermukim di kawasan “Kampoeng Tjina” Peunayong.

Terhadap rencana pemko untuk menjadikan Festival Peunayong sebagai even tahunan juga mendapat dukungan dari Ketua DPRK Banda Aceh, Yudi Kurnia SE. “Kita berharap even ini juga menjadi daya tarik wisata selain berbagai keunggulan lainnya yang dimiliki Kota Banda Aceh,” kata Yudi didampingi Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Kota Banda Aceh, Reza Fahlevi.

Pada acara penutupan tadi malam, kalangan etnik Tionghoa melalui perwakilannya, Yuswar juga menyampaikan terima kasih kepada Pemko Banda Aceh dan masyarakat pada umumnya yang telah memberikan ruang serta kesempatan hingga berlangsungnya kegiatan tersebut.

Atraksi seni
Informasi yang diterima Serambi dari Koordinator Posko RAPI di arena Festival Peunayong, Riza Iskandar (JZ01BZZ) menyebutkan, seperti pada pembukaan tiga malam lalu, prosesi penutupan juga disesaki masyarakat. Rangkaian acara penutupan diwarnai dengan penampilan atraksi wushu, tari kipas, dan fashion show. Juga diumumkan pemenang aneka lomba Festival Krueng Aceh sekaligus pembagian hadiah. “Ruas Jalan A Yani yang menjadi arena Festival Peunayong disesaki masyarakat sepanjang rangkaian acara penutupan,” lapor Riza Iskandar.(nas)

sumber : http://aceh.tribunnews.com

Iklan

Tentang bpmkotabandaaceh

Badan Pemberdayaan Masyarakat Kota Banda Aceh
Pos ini dipublikasikan di Berita dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke ‘Kampoeng Tjina’ & Festival Peunayong

  1. lowonganterbaik berkata:

    NUMPANG INFO YA BOS… bila tidak berkenan silakan dihapus:-)

    LOWONGAN KERJA GAJI RP 3 JUTA HINGGA 15 JUTA PER MINGGU

    1. Perusahaan ODAP (Online Based Data Assignment Program)
    2. Membutuhkan 200 Karyawan Untuk Semua Golongan Individu yang memilki koneksi internet. Dapat dikerjakan dirumah, disekolah, atau dikantor
    3. Dengan penawaran GAJI POKOK 2 JUTA/Bulan Dan Potensi penghasilan hingga Rp3 Juta sampai Rp15 Juta/Minggu.
    4. Jenis Pekerjaan ENTRY DATA(memasukkan data) per data Rp10rb rupiah, bila anda sanggup mengentry hingga 50 data perhari berarti nilai GAJI anda Rp10rbx50=Rp500rb/HARI, bila dalam 1bulan=Rp500rbx30hari=Rp15Juta/bulan
    5. Kami berikan langsung 200ribu didepan untuk menambah semangat kerja anda
    6. Kirim nama lengkap anda & alamat Email anda MELALUI WEBSITE Kami, info dan petunjuk kerja selengkapnya kami kirim via Email >> https://lowonganterbaik.wordpress.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s